Alfa Wanasabani Blog

Januari 16, 2012

Anggota Badan

Filed under: Bahasa Kromo — In'am @ 2:39 pm
Tags: , ,

This is the head of your page
Example HTML page

This is the body of your page.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Hati : galih (organ)
Hati : Penggalih ( rohani)
Mulut : Tutok
Jari : racikan
Hidung : grana
Kuping : talinga
Mata : soca, paningal
Pipi : pangarasan
Kepala : mustaka
Rambut : rekma
Wajah : pasuryan
Lidah : lathi
Kuku : kenaka
Janggut : sadhegan
Kaki : samparan
Lutut : jengku
Tangan : asta
Gigi : waja
Perut : padharan
Uban : sulam
Alis : imba
Badan : salira, sarira
Telapak tangan : gumpita
Leher : Jangga
Gusi : wingkisan
Lidah : lidhah
Bokong : pocong
(more…)

Juli 15, 2011

Biografi Qurra Sab’ah

Filed under: Biografi — In'am @ 2:29 am

Imam Abdullah bin Amir Al – Yahsibi (8-118 H)

Beliau adalah imam qira’ah di negir Syam. Beliau meriwatyan qira’ahnya dari beberapa sahabat Nabi Saw, diantaranya : Abu Darda, Fudhalah bin Ubaid, Wailah bin Al Asqa’, Muawaiyah bin Abi Sufyan (more…)

Juli 14, 2011

Tanda – tanda Waqaf dalam Al Qur’an

Filed under: Kajian,Tajwid — In'am @ 4:31 pm
Tags:

Saat membaca Al Qur’an, pada akhir ayat kita seringkali menemukan tanda-tanda isyarat waqaf seperti ط , م , ج , قف dan lain sebagainya. Apa sebenarnya maksud tanda-tanda ini ? berikut keterangan yang kami nuqilkan dari kitab Risalah Al Qurra’ wal Huffadz Fi Gharaibil Qurra wal Alfadz karya Al Ustadz ‘Abdullah Umar bin Baidhowi Al Qudsi

No Tanda Waqaf Singkatan dari Maksud
1 م Lazim Lebih utama berhenti
2 ط Mutlaq Utamanya berhenti
3 ج Jaiz Utamanya berhenti
4 قف Shighat Fi’il Amar Utamanya berhenti
5 قلى Waqof Aula Utamanya berhenti
6 ز Mujawwaz Utamanya washal
7 ص Murakhkhos Utamanya washal
8 ق Qila Waqfun Utamanya wahsal
9 صلى Washal Aula Utamanya washal
10 لا La Waqfun Utamanya washal
11 Mu’anaqah Utamanya waqof pada salah satunya

Juni 4, 2010

Pesantren, Pusat Kajian Yang Tiada Habisnya

Filed under: Artikel,Islami — In'am @ 3:36 am

Berbicara tentang pesantren selalu saja begitu menarik. Bukan saja karena eratnya kaitan unik antara pesantren dan masyarakat, bermacam tradisi khasnya, liku sejarah berdirinya, namun juga karena ‘keluarbiasaan’ pesantren dalam mengawal pendidikan bangsa selama lebih dari 300 tahun. Ya, selama kurun waktu itu pesantren telah ikut mencerdaskan putra-putri bangsa, terus berperan aktif membangun bangsa, menjadi ladang subur persemaian kader bangsa. Hingga dikemudian hari, tak mengherankan jika Pesantren berhasil membidani lahirnya tokoh-tokoh besar seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Sahal Mahfudz, Gus Mus (KH. Ahmad Mustofa Bisri), Emha Ainun Najib (Cak Nun) hingga Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjabat sebagai presiden ke-4 Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak berhenti sampai disitu, Bumi santri ini pun sukses menggawangi berdirinya Organasisai sosial keagamaan terbesar di Indonesia yakni Nahdlotul Ulama (NU). NU yang lahir atas prakarsa Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari ini adalah bukti nyata kepedulian ulama pesantren terhadap perkembangan masyarakat Islam dunia. perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni. Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam “murni”, yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem brmadzhab.

Bagi para kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih relevan. Untuk itu, Jam’iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera didirikan. Dari sinilah akhirnya Organisasi ini didirikan di Surabaya oleh para ulama pengasuh pesantren pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H.

Pun tak hanya ‘berkarya’, Sejarah panjang nan menarik meliputi awal pendirian lembaga pendidikan yang diasuh oleh Kyai ini, sebuah proses ‘luar biasa’ hingga pesantren tetap eksis hingga hari ini, eksistensi pesantren dalam uniknya tradisi yang dimilikinya, kemudian bagaimana jawaban pesantren terhadap tantangan zaman yang semakin berkelok ? Lembaga pendidikan Islam yang kerap dicap ‘tradisional’ ini pun tidak tinggal diam. Berlandaskan prinsip utama ‘almukhafadhotu ‘ala qadiimis shalih wal akhdu bijadidil aslah’ (menjaga kebaikan tradisi lama, dan mengambil tradisi baru yang baik) pesantren maju merespon berbagai tantangan zaman, tak hanya di bidang pendidikan, dibidang lain seperti teknologi, ekonomi, dan sosial budaya pun lembaga ini mulai menampakkan peran yang signifikan. Tulisan sederhana ini berupaya mengulas kembali, sejarah menarik berdirinya Pesantren di tanah air, keunikan dan kekayaan tradisi khas kepesantrenan hingga respon dan peran pesantren di tengah gemerlap globalisasi.

Sejarah Berdiri

Zamkhsyari Dhofier, seorang pakar yang konsen terhadap kajian pesantren, dalam makalah ‘pesantren, alternatifkah ?’ dan “Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia’ mengungkapkan bahwa pesantren telah ada sejak 1630 M. Jika dihitung lebih rinci, berarti umur pesantren hingga hari ini, telah mencapai angka 370 tahun. Bukan waktu yang sebentar tentunya.

Pada awal berdirnya, bentuk pesantren sangatlah sederhana. Kegiatan pengajian dilaksanakan didalam masjid, dengan seorang kyai menjadi guru dan beberapa orang santri sebagai muridnya. Hampir diseluruh penjuru nusantara, khususnya di pusat-pusat kerajaan Islam, terdapat lembaga pendidikan yang kurang lebih serupa dengan pesantren, meski dengan nama yang berbeda. Seperti Meunasah di Aceh, dan Surau di Minangkabau.

Mulanya, jamaah sang kyai hanya terdiri dari beberapa orang saja. Setiap menjelang atau selesai shalat berjama’ah, Kyai biasanya memberikan ceramah pangajian sekedarnya. Isi Pengajian berkisar terkait rukun Iman, rukun Islam, serta masalah-masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Lama kelamaan, berkat keikhlasan Kyai dalam mengajar serta keteladanan langsung yang dilakukan Kyai, jamaah yang sedikit ini pun bertambah banyak.

Di kemudian hari, tak hanya masyarakat setempat yang datang untuk mengaji. Tidak sedikit para santri yang berasal dari luar daerah sengaja datang untuk ngaji pada sang Kyai. Dari sini kemudian dibangunlah secamam gubuk untuk tempat tinggal santri terutama yang berasal dari luar daerah. Dalam perkembangannya, dari gubuk sederhana ini selanjutnya berdiri bangunan-bangunan pesantren seperti sekarang.

Dari keterangan sejarah yang berkembang di masyarakat, dapat disimpulkan bahwa berdirinya pondok pesantren tertua, baik di Jawa maupun luar Jawa, tidak dapat dilepaskan dari inspirasi yang diperoleh melalui ajaran yang dibawa Walisongo. Utamanya di tanah Jawa, berdirnya pesantren tererat kait dengan keberadaan Maulana Malik Ibrahim (w. 1419) yang dikenal sebagai spiritual father Walisongo (Abdurrahman Mas’ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, 2002).

Keunikan dan Ragam tradisi khas pesantren

Tak dapat disangkal, Pesantren sebagai satu diantara lembaga pendidikan Islam berdiri diatas keunikan tradisi dan kekhasannya. Disebut khas, karena bentuk tradisi dan budaya ini tidak dapat dijumpai pada bermacam lembaga pendidikan lain yang ada. Beberapa tradisi khas pesantren itu, diantaranya

1 . Kain Sarung

Kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya hingga berbentuk seperti tabung, itulah sarung. Bagi kita santri, sarung tentu bukan barang baru. Karena diluar kegiatan sekolah, sarung menjadi ‘menu wajib’ yang mesti dikenakan oleh seorang santri. Tapi Tahukah kita, bahwa ternyata kain lebar ini tak hanya dikenal di Indonesia. Sarung juga dikenal dengan nama  izaar, wazaar atau ma’awis.   Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama  wizaar. Orang Arab Saudi mengenalnya dengan nama  izaar. Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa.

Dalam  Ensiklopedia Britanica, disebutkan, sarung telah menjadi pakaian tradisomal masyarakat Yaman. Sarung diyakini telah diproduksi dan digunakan masyarakat tradisional Yaman sejak zaman dulu. Hingga kini, tradisi itu masih tetap melekat kuat. Bahkan,  hingga saat ini,  futah atau sarung Yaman menjadi salah satu oleh-oleh khas tradisional dari Yaman.
Bagi kalangan Pesantren, keberadaan sarung telah melegenda. Pada zaman kolonial Belanda, sarung dijadikan simbol perlawanan. Sarung telah menjadi simbol perlawanan terhadap para penjajah yang terbiasa mengenakan baju modern seperti jas.

2. Kitab Kuning

Dalam pengertian sederhana, kitab kuning atau yang sering juga disebut kitab turats adalah kitab-kitab keagamaan berbahasa Arab atau berhuruf Arab karya para ulama masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra modern, abad ke 17-an M. Dalam perkembangannya, kitab (karya ilmiah) para ulama ini kemudia dibagi dalam dua kategori berdasarkan kurun waktu penulisannya. Kategori pertama disebut al-kutub al-qadimah (kitab-kitab klasik). Sedangkan kategori kedua sering disebut al-kutub al-‘ashriyyah (kitab-kitab modern).Masuk dalam kategori pertama, seperti kitab Alfiyyah Ibnu Malik, Tafsir Jalalain, dan lain sebagainya sedangkan pada kategori kedua seperti kitab At-Tazhib, Fiqhul Islam Waadillatuhu dan lain sebagainya.

Lalu sejak kapan sebernarnya kitab kuning mulai digunakan menjadi sumber kajian di Nusantara (baca : pesantren) ? Sangatlah mungkin, sejauh bukti-bukti sejarah yang ada, bahwa kitab kuning mulai digunakan di pesantren semenjak abad ke-18 M, dan sangat dimungkinkan pengajaran kitab kuning secara massal dan permanen, baru dilaksanakan pada pertengahan abad 19 M. yakni ketika ulama nusantara, khususnya dari tanah jawa, kembali dari program belajarnya di Mekkah. (Abdurrahman Wahid, Asal Usul Tradisi Keilmuan Pesantren: 1984).
Terkait dengan metode pembelajran kitab kuning, paling tidak dapat kita temukan dua buah metode terkenal yang sering digunakan yakni Bandongan dan sorogan. Bandongan adalah metode pembelajaran dimana setiap santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kyai, sementara kyai menerangkan, para santri menyimak kitab masing-masing sembari membuat catatan penting yang diperlukan. Sedangkan Sorogan (menyodorkan) yakni sebuah metode pembelajaran dimana setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kyai atau ustadz , Metode ini menggunakan pendekatan belajar individual. Khusus di Pesantren Jawa, setiap santri diperkenalkan pada huruf pegon dan afsahan ika-iku. Huruf pegon yang dipakai disesuaikan dengan bahasa daerah yang digunakan seperti, jawa ataupun sunda.

Pesantren di Tengah Gemerlap Globalisasi

Globalisasi membuat dunia semakin pendek. Indikasi pertama dari kejadian ini adalah semakin Mudahnya akses informasi, kemudahan yang memungkinkan setiap orang di berbagai belahan dunia, mengakses bermacam informasi yang diperlukannya. Bertukar pikiran dengan siapa pun yang dikehendakinya. Dan seperti yang disebutkan oleh banyak orang, selalu saja ada dua mata pisau untuk efek globalisasi. Baik dan buruk. Positif dan negatif. Tergantung bagaimana pengelolaan dan penyikapan terhadap globalisasi ini.

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam pun begerak cepat mengambil sikap terhadap efek globalisasi (baca : kemajuan zaman). Mengambil jalan untuk menetralisir dampak negatif yang dimungkinkan terjadi. Dengan tetap berpegang teguh keempat sumber hukum Islam, yakni Al Qur’an, hadist, Ijma’ dan Qiyas.
Tak hanya berkonsentrasi melaksanakan fungsi tarbiyyahnya, pesantren secara istiqomah berusaha menggarap bidang-bidang lainnya, seperti teknologi, ekonomi hingga sosial kebudayaan. Pesantren mengambil jalan keterbukaan terhadap pesatnya kemajuan zaman. Dengan tetap mempertahankan kebaikan tradisi lamanya dan selalu menjadi kewajiban syar’i sebagai pertimbangan utamanya.

Menyikapi kebutuhan masyarakat akan informasi, Pesantren pun segera bereaksi. Tak hanya pada media cetak seperti majalah, buletin maupun tabloid, beberapa pesantren pun kini mulai melebarkan sayap dakwahnya melalui media informasi elektronik seperti mendirikan statisun televisi (contoh : MQ Tv Ponpes Darutt Tauhid Bandung) ataupun mendirikan stasiun radio seperti yang dijalankan Pondok Peseantren API Tegalrejo Magelang (Fast FM), Pondok Pesantren Al Hikmah 1 (SAS FM) dan yang sedang diupayakan oleh Pondok Pesantren Al Hikmah 2.

Pesantren terus berusaha membekali setiap santrinya dengan berbagai cabang keilmuan. Disamping tetap mengedepankan pendidikan keagamaannya, pesantren pun berupaya meningkatkan life skiil setiap santrinya dengan mengadakan berbagai program spesifikasi seperti Komputer, pengelasan, tata busana, perikanan, perikanan dan lain sebagainya.
(Dari berbagai Sumber)

Juni 3, 2010

Unsud, Bukan Nama Universitas

Filed under: Kuliner,Wisata — In'am @ 5:56 pm

Satu lagi tempat kuliner yang patut Anda sambangi , tatkala menjejakkan kaki di kota Bumiayu Brebes. Unsud demikian pemilik tempat ini memberi nama pada warungnya.

Berlokasi tak jauh dari masjid jami’ Bumiayu, warung mie ayam ini tak pernah sepi dari pengunjung di setiap harinya. Dalam kesederhanaannya Unsud telah menjadi warung mie ternama.

Anda dapat menikmati lezatnya Mie ayam khas Unsud ini, hanya dengan Rp 5000. Harga yang relatif murah tentunya. rasanya kurang lengkap ke Bumiayu, jika belum merasakan ‘nikmatnya’ Unsud.

‘Lebih Mudah’ Menjadi Orang Lain

Filed under: Uncategorized — In'am @ 4:20 pm

Apa yang melintas dalam benak, saat kita menyaksikan sebuah pertunjukan opera. Kagum, takjub, bangga, senang, sedih, atau malah heran. Kagum untuk sebuah ‘kesempurnaan’ pelakonan peran para pemain opera, bangga terhadap ‘kehebatan’ karya anak bangsa. Atau malah heran pada sebuah ‘kenyataan’, begitu tertariknya orang-orang merubah jati diri dan penampilan.

Beberapa dari penonton, merasa gembira. Mereka hanyut dalam buaian nada para pemain opera. Beberapa dari mereka berteriak sekenanya saat ‘kehebohan’ di panggung sana terjadi. dengan semangatnya, tangan-tangan itu melambai mengikuti setiap ketukan dan iringan nada.

Lalu apa yang Anda pikirkan. Saat para pemain ini ‘beraksi’. adakah ‘tangkapan’ anda berbeda. membawa pada satu wacana, mungkin memang lebih mudah, menjadi orang lain.

Mei 24, 2010

Belanja Murah di Pasar Wage Bumiayu

Filed under: Wisata — In'am @ 7:07 pm

Pasar wage, demikian masyarakat Bumiayu Brebes menyebutnya. Keberadaan pasar yang ada hanya setiap wage (salah satu nama hari, dalam pasaran jawa) ini memang begitu spesial bagi warga. Tak hanya untuk warga di kecamatan Bumiayu, setiap wagenya ratusan warga dari kecamatan lainnya, seperti Paguyangan, Bantarkawung, Tonjong dan Sirampog tak ketinggalan untuk ambil bagian. dan tak hanya orang tua, di hari libur tidak sedikit anak-anak yang bersliweran di pasar ini.

Ya, inilah Pasar wage yang terkadang disebut pasar murah oleh sebagian masyarakat. Penyebutan ini bukan tanpa alasan. Untuk beberapa komiditas tertentu seperti kaos, jaket, celana, perabot rumah tangga, harga dipasar ini memang boleh diadu murahnya. Meski tak jarang miringnya harga disepadankan dengan kualitas barang itu sendiri.

Pasar wage memang begitu unik, ditengah maraknya aksi bangun supermarket dan minimarket di Bumiayu, pasar tradisional ini tetap berjaya, menyedot animo masyarakat untuk berbelanja. Dengan ciri khas ‘tawar-menawarnya’ pasar ini telah menjadi perhatian tersendiri untuk masyarakat. Pasar yang sejatinya untuk ‘dagang ternak’ ini telah jauh berkembang tujuan asal pendiriannya.

Namun tentu, berdirinya pasar ini bukannya tanpa masalah. banyaknya lapak pedagang tak jarang memacetkan lalu lintas. Lapak yang berterbaran di sepanjang jalan menuju desa Laren ini, menggerus badan jalan menjadikannya lebih sempit.

Pun demikian, dengan segala yang dimilikinya. Pasar wage tetap sangat dinanti.

Perkembangan Hukum Islam di Indonesia

Filed under: Artikel,Islami — In'am @ 6:07 pm
Tags:

Temuan Ibnu Batutah pada tahun 1345 Masehi saat berkunjung ke Samudera Pasai (Aceh, dekat Lhokseumawe sekarang) memberikan petunjuk bahwa pada masa itu Islam telah berkembang baik di Indonesia. setidaknya di Aceh. Pengembara Arab asal Maroko itu begitu mengagumi kemampuan Sultan Al-malik Al zahir dalam berdiskui tentang berbagai masalah Islam dan ilmu fikih. Menurutnya, selain sebagai seorang raja, Al Malik juga merupakan seorang fuqaha yang mahir tentang hukum Islam, utamanya mazhab Syafi’i dalam kajian fiqhnya.

Menurut Hamka, dari Pasailah disebarkan paham Syafi’i ke kerajaan Islam lainnya di Indonesia. Bahkan setelah kerjaan Islam malaka berdiri (1400-1500 M), para ahli hukum Islam Malaka datang ke samudrea pasai untuk meminta kata putus mengenai berbagai masalah hukum yang mereka jumpai dalam masyarakat.

Maret 20, 2010

Sehari, dua berita

Filed under: Uncategorized — In'am @ 9:13 am

Lama tak ngeblog, buka blog sendiri ternyata tetap sama. “sepi”. pengunjung. Yah, apa boleh dikata, “siapa berkunjung, dia akan dikunjungi ” mungkin itu dalillanya.
saudara…..
Rasanya belum pernah. Baru kali ini mungkin nulis model begini. Kata orang “curhat” yah..apapun itu, ini bagian dari nulis. Belajar nulis tepatnya.
Nulis memang tak sekedar bakat. bahkan banyak yang mengatakan itu bukan bakat. nulis adalah sebuah keberanian untuk mengekspresikan diri lewat pena. Aku kira in ada benarnya juga. Semakin rajian menulis, ia akan memperkaya diri. dan sebalikanya. ketika pena ditaruh, ia akan mempersempit wawasannya sendiri.
hari ini aku berusaha untuk itu. belajar menulis.

Februari 20, 2010

Tetangga

Filed under: Uncategorized — In'am @ 7:18 pm

Orang-orang yang berada disekitar rumah kita, kanan-kiri, depan-belakang itulah yang dinamakan tetangga. Meski tetangga tidak sama dengan tangga secara harfiah, namun secara fungsi tetangga dapat bermanfaat layaknya tangga. Tangga yang dapat digunakan untuk meraih tempat lebih tinggi di sisi-Nya. Manusia jelas tak dapat hidup sendiri karena sifat kesosialannya. Ia mesti berinteraksi dengan orang lain untuk melaksanakan pelbagai hajat hidupnya. Ibarat seorang petani di zaman dulu, petani yang memiliki beras tentu mesti berinteraksi (bersosial) dengan para pemilik sayur atau lauk, jika ingin mendapati sayur dan lauk dalam piring hidangnya.

Meski demikian besar seorang akan kebutuhan bertetangga (baca :bersosial). Terkadang hidup bertetangga tak dapat dikatakan mudah. Dibutuhkan kebesaran jiwa untuk saling menerima, kepekaan rasa untuk saling berbagi dan  kebaikan prasangka untuk saling menentramkan jiwa. Kebesaran jiwa untuk saliang menerima perbedaan pendapat, status sosial atau mungkin hoby, kesenangan. Kepekaan rasa atas suka duka orang-orang disekiling kita (tetangga), ketika si tetangga menderita tentu bukan senyum atau tawa yang akan kita bagikan melainkan duka dengan uluran tangan semampu kita. Dan terakhir kebaikan prasangka atas bermacam hal, karena buruknya prasangka sejatinya hanya akan menyusahkan pemiliknya. Satu contoh sederhana, tetangga di depan rumah kita, baru saja membeli mobil katakan demikian, maka kita pun hendakanya ikut bahagia.

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.